— sekitar 6 menit membaca

Kuliner Nasi Tongkol Mbak Ju di Wonokromo

Kuliner populer di Surabaya yang katanya wajib untuk dikunjungi.

Bermula menonton VT (Video Toktok) ane melihat review tentang makanan “penyetan” yang (sejak dulu sebenarnya sudah) viral dan lejen di Surabaya. Ketika ada kesempatan ke Kota Pahlawan ini ane luangkan waktu untuk mencoba.

Nama warungnya adalah Nasi Tongkol Mbak Ju yang berlokasi di dalam pasar DTC (Darmo Trace Center) di daerah Wonokromo Surabaya. Jika sempat menengok ke Toktok atau Youtube, maka bakal banyak video yang muncul mereview dan menjelaskan tentang warung ini. Seperti namanya warung ini berjualan nasi dengan lauk ikan tongkol. Hanya ini saja menunya namun yang beli ramai pula.

Dari sekian banyak video yang sudah ane tonton, ada 1 kesimpulan bahwa nasi tongkol ini enak banget namun 1 hal yang hilang yaitu rute ke lokasi. Apa pasal? Warung ini terletak di dalam pasar modern dengan total 6 lantai. Banyak orang hanya memuji - muji saja rasa menunya tanpa menunjukkan arah dan rute yang tepat dan cepat untuk menuju warung ini.

Berbekal niat saja ane putuskan untuk mencoba mencari dimana letak warung ini. Dari terminal bus Bungurasih, ane naik Gojek. Harapannya adalah abang gojek akan membantu menjawab pertanyaan saya namun ternyata zonk. Si abang lebih paham tentang skincare pelindung dari sengatan matahari daripada lokasinya. Jadi diputuskan ikut dengan petunjuk dari Google Maps (sambil berdo’a semoga tak salah arah).

Tentu saja apa yang bisa diharapkan dari Google Map kalo lokasinya di dalam pasar?

Si abang Gojek nurunin ane di kampung sebelah pasar karena Google Map menyebut disitu tempat terdekatnya. Lokasinya dekat dengan Warung Mak Yeye yang terkenal itu (tutup kalo siang).

Alhasil ane harus muter - muter dulu untuk masuk ke DTCnya. Setelah capek muter - muter, ane akhirnya bisa masuk DTC lewat jalur jalan parkir mobil dan langsung mengarah ke Lantai 1. Di dalam pasar Google Map ini cupu, tidak bisa menunjukkan arah yang tepat. Ane seperti sedang di dalam lorong - lorong labirin dengan tumpukan daster dan celana jeans KW yang bertebaran di kanan kiri. Semakin ke dalam semakin sepi penjualnya, hanya ada deretan stand kosong dan tertutup.

Disini istilah “malu bertanya sesat di jalan” sepertinya sangat relevan. Bye Google you’re useless. Akhirnya ane lewat depan orang jualan skincare, what!!!. Ane langsung saja ditarik sama mbak - mbak SPG untuk ditawarin produknya, si mbak sales nyerocos terus ga bisa distop. Ane lirik ternyata sudah agak sepuh. Kasian, akhirnya ane beli produknya meski ga butuh. Tapi di sisi yang lain ane mau manfaatkan untuk bertanya lokasi warung nasi ini.

Setelah bertanya ternyata memang berada di lantai 1 dan ada di pojokan belakang. Berbekal informasi ini ane jalan - jalan muter - muter lagi sampai akhirnya ketemu lokasi yang dimaksud. Alhamdulillah.

Namun setelah makan ternyata ada rute yang gampang dan mudah menuju warung ini, yaitu masuk ke DTC lewat pintu di Jalan Wonokromo (jangan di Jalan Stasiun Wonokromo maupun Jalan Jagir Wonokromo). GAMBAR 1.

Rute paling mudah untuk menuju Warung Mbak Ju

Kemudian pilih gang menuju lokasi parkir sepeda motor, jalan lurus GAMBAR 2 sampai ketemu tangga, naik, dan kemudian belok ke kiri. GAMBAR 3. Setelah 1 atau 2 gang, Warung Nasi Tongkol Mbak Ju berada di sebelah kananmu.

Nasi Tongkol #

Ane sampai di warung sekitar jam 11 lebih 20 menit, saat itu sudah ada beberapa pembeli yang datang belum ramai sekali. Kata orang nanti ramainya pas jam makan siang.

Area sekitaran warung, sempit, tempat duduk terbatas dan agak kotor. Maklum di dalam pasar. Anak alm. Mbak Ju sedang meracik sepiring nasi tongkol

Tak menunggu lama ane langsung pesan saja nasi tongkol dengan tambah lauk telor dadar. Si penjual adalah anak dari Mbak Ju (sudah meninggal) kerjanya cepat. Beliau kemudian menyiapkan sambal tomat - terasi dan menguleknya langsung di tempat, segera 1 porsi nasi tongkol langsung tersedia lengkap dengan telor dadar dan sambal lalapan. Selain itu dikasih juga teri goreng dan sambal yang terbuat dari tongkol yang dihaluskan.

Nasi

Sepiring nasi tongkol mbak Ju

The moment of the truth.

Ngomongin influencer kuliner di Indonesia, ane tidak pernah percaya kecuali dengan rekomendasi (alm) Bondan Winarno. Kalo beliau bilang enak maka sudah pasti enak. Maknyus!!! 👌🏽

Sedangkan yang lain ane masih ragu. Termasuk untuk rekomendasi nasi tongkol ini yang setelah ane coba rasa sambalnya biasa saja. Terasinya kurang terasa, menurut ane lebih enak sambal tempong di Banyuwangi. Namun ada yang unik di sambal tongkolnya, ane sama sekali belum pernah makan sambal seperti ini. Menarik. Rasa ikan teri goreng ya sama seperti ikan teri lainnya, crispy dan salty. Menurut ane malah rasa teri ini yang memberikan “rasa” pada masakan ini karena telor dadarnya pun tidak ada rasa apapun.

Tapi tentu saja ane tetap habiskan dengan penuh semangat karena belum makan sejak pagi. Selain itu yang membuat ane sedikit kecewa adalah ketika diberi pilihan sambal ane sudah sampaikan minta sambal yang pedas tapi ternyata pedasnya sama sekali tak terasa. Ane ingin merasakan sambal terasi yang pedas menggelora, biar berkeringat dan lendir di hidung keluar. Apakah mungkin si penjual lupa?

Review rasa ini subyektif ane, bisa saja orang lain akan berpendapat berbeda. Tapi yang pasti ane datang ke warung saat sedang flu dan batuk. Bisa jadi flu ini mengurangi kerja alat perasa ane. Ya mungkin seperti itu. Oleh karena itu ane ada rencana akan mampir saat ada keperluan di Surabaya lagi.

Update #

Beberapa pekan yang lalu ane sempatkan datang lagi kesini saat ada kesempatan ke Surabaya. Seperti biasa datang saat akhir pekan dan pas tengah hari. Saat itu pengunjung penuh sekali dan ane harus mengantri. Tidak lama karena pelayanan memang cepat.

Suasana ramai di Warung Mbak Ju. Sepiring nasi tongkol Mbak Ju.

Ane pesan menu yang sama seperti sebelumnya namun dengan pesan tegas kalo ane minta sambel yang pedas. Akhirnya setelah mendapatkan sepiring nasi tongkol ane kemudian mencari tempat duduk. Sangat ramai tapi untungnya pas ane sudah dapat makanan ada sepasang insan manusia bergeser untuk keluar sehingga ane dapat tempat (meski sempit dan seadanya).

Ternyata kekhawatiran ane terbalas, rasanya sama dengan saat ane datang sebelumnya. Bukan karena ane pilek, melainkan memang rasanya kurang menurut ane. Oke sambelnya pedas namun rasa terasi kurang terasa, tongkolnya pun bukan yang salty melainkan biasa saja. Telur dadarnya pun seakan tidak dibumbui apa - apa. Namun begitu ane tetap habiskan menu ini dan pesan 1 bungkus lagi untuk dibawa pulang.


Artikel terkait #kuliner

Kuliner kepala Manyung

Berikut adalah daftar destinasi kuliner masakan kepala manyung yang pernah ane coba.

Perjalanan ke Timur mencari Nasi Tempong

Ekspedisi menuju ke Timur untuk membuktikan kelezatan nasi tempong khas Banyuwangi di daerah asalnya.

Berburu Soto di Solo

Saya adalah pecinta soto. Sudah banyak soto yang sudah dicoba, mulai dari soto à la daerah Mataraman, Soto Lamongan, Soto Madura, Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Banjar, Coto Makasar, dan Soto Blitar (Bok Ireng), dan Soto Seger.


dari Fediverse

Kamu juga bisa meninggalkan komentar dari akun fediversemu dengan meng-reply di toot ini

Belum ada komentar dari fediverse

kembali ke atas