Orang Bodoh Sejati
Follow me @kusaeni • Gooners Karbitan

19 Jul 2014

Yang menarik hari ini

  1. Saat sedang mencoba tersambung dengan jaringan dengan Vidalia + Tor. Semua aplikasi pengakses internet yang akan dipergunakan di atas Tor harus ditutup. Sudah dicoba saat Vidalia mencoba tersambung ke jaringan, pada saat yang sama peramban Luakit masih terbuka.

    Ketika Vidalia sudah tersambung ke jaringan, agar Luakit bisa berjalan di atas Tor. Maka harus dijalankan dengan perintah torify luakit.

    Namun jika pada saat Vidalia sedang menyambung sudah ada Luakit terbuka (tidak berjalan diatas Tor) maka peramban Luakit yang dijalankan dengan torify luakit tidak akan bisa mempergunakan akses Tor.

    Solusi? . Tutup semua peramban, kalo perlu matikan dengan paksa.

    $ ps -ax | grep luakit
    $ pkill luakit
    

    Kemudian restart Vidalia. Baru jalankan Luakit dengan torify luakit. Untuk memastikan sudah berjalan diatas Tor, bisa diperiksa dengan mengunjungi lama Tor Check

  2. Akhirnya terlepas dari Adblock Plus. Sebagai pengganti dipilih hostsblock.

    Hostsblock adalah aplikasi atau lebih tepatnya sebuah script yang memanfaatkan berkas HOST yang ada di sistem UNIX-Like guna melakukan filtering terhadap paket – paket jaringan internet. Tidak terbatas pada iklan – iklan, domain berbahaya, trackers, dan situs yang tidak di inginkan.

    Pada dasarnya hostsblock membantu untuk memblok isi dari situs – situs yang didaftarkan. Bisa berupa situs iklan bahkan sampai ke akses situs pornografi.

    Pengguna Archlinux, bisa memasang hostsblock lewat AUR

      # untuk pengguna cower
      $ cower -d hostsblock
      $ cd Build/hostsblock
      $ makepkg
      $ sudo pacman -U hostblock.0.12.3-1.tar.xz
    
      # untuk pengguna yaourt (lebih mudah)
      $ yaour -S hostsblock
    

    Agar hostsblock bisa berjalan dengan gegas, ada baiknya memasang juga dnsmasq untuk dns caching daemon

      # install dnsmasq
    $ sudo pacman -S dnsmasq
    # edit konfigurasi dnsmasq
    $ sudo vim /etc/dnsmasq.conf
    
    # tambahkan baris berikut di dnsmasq.conf
    listen-address=127.0.0.1
    addn-hosts=/etc/hosts
    
    # tambahkan nameserver dnsmasq
    $ sudo vim /etc/resolv.conf
    nameserver 127.0.0.1
    
    # edit hostsblock konfigurasi
    $ sudo vim /etc/hostsblock/rc.conf
    
    # tambahkan baris berikut 
    postprocess(){
    systemctl restart dnsmasq.service 
    }

    Alternatif lain bisa dengan memakai Privoxy, aplikasi proxy untuk memfilter request HTTP

14 Jul 2014

lftp & jekyll

Jika tidak dihost di Github, maka untuk mengunggah berkas – berkas HTML statis hasil dari Jekyll bisa dengan mengunggahnya secara manual lewat kontrol panel maupun ftp. Standarnya Jekyll mempergunakan fungsi Git untuk mengpush repo ke Github.

Perlu diketahui, dengan mempergunakan Git, maka berkas yang diunggah adalah berkas – berkas yang termodifikasi saja. Sayangnya git tidak didukung oleh (sebagian besar) penyedia layanan hosting.

Glynn

Selama ini, saya mempergunakan Glynn. Memakai Glynn ini sangat membantu dalam proses unggah berkas, selain itu Glynn dibuat juga dengan bahasa Ruby sehingga bisa menyatu dengan Jekyll dengan baik.

Namun begitu, Glynn juga memiliki sebuah masalah yaitu ketiadaan fungsi untuk mengunggah berkas berdasarkan timestamp. Sehingga berkas – berkas yang diunggah Glynn adalah semua berkas yang ada dalam 1 folder _site. Hal ini selain menjadikan besaran berkas yang diunggah meningkat, juga memperlama waktu pengunggahan.

lftp

Alhamdulillah ketemu dengan lftp, sebuah aplikasi ftp yang berjalan di Terminal. lftp ini mendukung fungsi untuk membandingkan isi berkas di remote dengan yang di local, dan kemudian mengunggah berkas – berkas yang sudah termodifikasi saja.

Awalnya saya pikir ini adalah fitur khusus yang dimiliki oleh lftp, namun ternyata hampir semua aplikasi ftp terbaru sudah memiliki fitur yang sama. Namun saya lebih suka lftp, selain cepat dan ringan. lftp jalan di Terminal :).

Di Archlinux bisa dipasang dengan perintah :

 $ sudo pacman -S lftp

Untuk mengunggah berkas Jekyll dengan lftp maka yang harus dilakukan adalah :

 1  # pastikan bahwa berkas sudah selesai di regenerate 
 2  # oleh Jekyll
 3  
 4  # pindah ke direktori _site di jekyll
 5  $ cd /home/poes/kusaeni.com/_site
 6 
 7  # lftp login ke server hosting ~/public_html
 8  $ lftp ftp.situsku.com
 9 
10  # masukkan user & password
11    lftp ftp.situsku.com:~> user loginku
12    Password :
13    lftp loginku@ftp.situsku.com:~> cd ~/public_html
14 
15  # upload files dengan lftp
16    lftp loginku@ftp.situsku.com:~> mirror --reverse\
17    					--only-newer\
18    					--ignore-time\
19    					--parallel=5\
20    					--verbose	

Bagian terpenting dari proses dan perintah lftp ini adalah di baris ke-16. Kalau ditulis dalam 1 baris maka :

 mirror --reverse --only-newer --ignore-time --parallel=5

Maksud dari kode diatas adalah :

 # hasil dari perintah diatas
 Total: 28 directories, 47 files, 0 symlinks
 New: 1 file, 0 symlinks
 Modified: 8 files, 0 symlinks
 342281 bytes transferred in 10 secs (33.4 KiB/s)

Secara kemampuan memang lftp belum bisa disejajarkan dengan git. Tapi setidaknya lftp lebih baik daripada Glynn. Mampu mengcopy sedikit fitur git sehingga bisa mempercepat dan memperingan tugas unggah mengunggah berkas HTML statis hasil regenerate Jekyll. :)

13 Jul 2014

RainbowStream

Rainbowstream adalah sebuah Twitter klien yang dibangun dengan python dan berjalan di Terminal. Kelebihan dari Rainbowstream adalah kemampuan untuk menampilkan twit secara realtime, mengirim dan mencari twit, menampilkan list dan lain – lain tapi dalam tampilan yang Colorfull.

Rainbowstream

Cara pemasangannya mudah, karena Rainbowstream mendukung 2 versi Python, yaitu 2.7 dan 3.4 sehingga tidak ada masalah khusus dalam pemasangannya.

 $ sudo pip install rainbowstream # untuk python2
 $ sudo pip3 install rainbowstream # untuk python3

Namun, saya lebih suka untuk memasang aplikasi ini didalam virtualenv karena lebih nyaman mempergunakan Python 2.7 dibandingkan yang versi 3 keatas.

 $ mkdir venv 
 $ virtualenv2 --system-site-packages venv
 $ source venv/bin/activate
 $ pip install rainbowstream
 $ rainbowstream

Setelah terpasang, untuk menjalankannya cukup ketik rainbowstream didalam virtualenv.

 (venv)$ rainbowstream

Jika ingin menampilkan gambar didalam Terminal, bisa mempergunakan opsi -iot (image on terminal).

 (venv)$ rainbowstream -iot

rainbowstream -iot

Pertama kali menjalankan, rainbowstream akan meminta PIN untuk menghubungkan dengan Twitter. Seperti aplikasi klien Twitter pada umumnya. Setelah masuk, di interactive terminal mode bisa ketik h untuk menampilkan bantuan perintah – perintah.

Rainbowstream juga datang dengan beberapa pilihan tema. Tema – tema populer seperti Monokai, Solarized, Larapaste sudah disediakan.

  [@kusaeni] theme
     tomorrow_night
     monokai
     larapaste
     default
     solarized
   * custom (loaded)
  [@kusaeni] theme larapaste # pilih tema larapaste
  [@kusaeni] theme current_as_default # tema sbg default

Pelajari lebih lanjut perintah – perintah Rainbowstream di Read The Docs.

25 Jun 2014

DHCP Smartfren Bermasalah

Seperti yang sudah kutulis sebelumnya tentang tidak bisa login ke Masterkey MWN ternyata masalah memang pada alamat IP koneksiku. Tapi bukannya di blacklist atau di ban, melainkan ternyata DHCP Smartfren selalu memberikan IP berubah – ubah setiap beberapa menit (atau mungkin beberapa detik).Sehingga Masterkey memaksa untuk memutuskan sambungan demi alasan keamanan. Hal yang bisa dimaklumi.

Lalu bagaimana dengan penyelesaiannya?

Karena memang Smartfren menerapkan kebijakan (yang kurang bijak) untuk merubah – ubah alamat IP tersebut, entah untuk alasan apa (bisa jadi agar tidak dipakai akses game online) maka salah satu solusi adalah berpindah ke layanan internet dari ISP lain.

Jika tidak, bisa memaksa dengan mempergunakan IP Static agar koneksi tetap lancar. Ada banyak penyedia layanan VPN yang bisa menyediakan IP Static. Beberapa ada yang berbayar dan ada pula yang gratis.

Disini aku pergunakan layanan dari Tor. Tor adalah aplikasi gratis yang bisa menghubungkan ke jaringan terbuka untuk menghindari analisa tranfik oleh pihak ketiga.

Tor is free software and an open network that helps you defend against traffic analysis, a form of network surveillance that threatens personal freedom and privacy, confidential business activities – relationships, & state security.

Dengan Tor, aku bisa dapat IP Static sekaligus status “anonymous” sehingga trafik Internetku tidak mudah di intip dan ditelusuri. Untuk mempergunakannya aplikasi ini harus dipasang terlebih dahulu. Di Archlinux bisa dipasang dengan pacman
 # pacman -S tor torsocks vidalia

Akan memasang tor dan torsock. Sedangkan Vidalia itu optional, hanya dipergunakan jika ingin mempergunakan tor dengan GUI. Setelah terpasang, jalankan aplikasi dan secara otomatis Tor akan mencari daftar jaringan yang terbuka dan kemudian menghubungkan diri ke jaringan terdekat dan tercepat.

Agar aplikasi yang berjalan bisa meluncur diatas Tor, maka perlu dirubah konfigurasi proxynya. Semua lengkap dan bisa merujuk ke situs dokumentasi Tor. Kalo tidak ingin sedikit repot utak – utik bisa juga memasang bundle Tor Browser. Tor Browser adalah peramban web yang dimodifikasi dari Firefox.

Khusus pengguna Luakit, bisa langsung dijalankan dengan perintah $ torify luakit.

Akhirnya memang cara ini yang paling dekat untuk dipilih, dan untuk sementara bisa berjalan dengan baik. Namun begitu, dengan mempergunakan Tor tentu saja pada akhirnya harus mengorbankan masalah kecepatan internet yang harus “berputar” sebelum sampai ke tujuan.

Bagaimana lagi?

24 Jun 2014

2 Hal yg kubenci hari ini

Bah!.

  1. Tidak bisa login ke Masterkey@MWN

  2. Sudah beberapa hari ini tidak bisa login ke Client Area di MWN, sebenarnya kalo dibilang tidak bisa login tidak begitu. Masih bisa masuk namun setiap mengklik tautan apapun didalam Client Area pasti halaman akan diarahkan ke login form kembali. Menjengkelkan

    Tidak hanya itu, bahkan untuk akses via FTP pun tidak lagi bisa. Payah!

    Sudah bertanya ke MWN via Twitter, dan dijawab agar mencoba untuk membersihkan cache dari peramban yang dipergunakan. Kalau tidak bisa, agar mencoba masuk dengan peramban lainnya

    Semua yang disarankan oleh MWN sudah dilakukan, bahkan sudah pakai 4 peramban berbeda (Luakit, Midori, DWB, dan Firefox) namun hasilnya nihil. Tidak ada tanda – tanda bisa dipergunakan. Aku curiga IP dari komputerku di blacklist atau di ban oleh MWN. Karena jika mempergunakan komputer lain dengan IP berbeda, pasti bisa lancar masuk ke Client Area.

    Curiga.

    Akhirnya diputuskan pakai Tor, untuk mencoba. Dengan Tor, aku bisa merubah – rubah IP bahkan sampai dengan Anonymous. Hasilnya? Memuaskan. Bisa masuk ke Client Area. Bisa masuk ke SPanel dan melakukan pelbagai manajemen files.

    Sudah memasukkan pertanyaan di Ticket System MWN. Berharap masalah ini bisa segera selesai. Sementara itu terpaksa untuk urusan upload file harus dilewatkan dulu ke Tor. Resikonya? akses jauh lebih lambat. :(

  3. Booting system Archlinux lemot

  4. Sebelumnya sudah ada perkiraan, gegara akhir – akhir ini sering pasang aplikasi yang membutuhkan daemon untuk jalan lancar.

    Komputer butuh ~ 1 menit untuk booting. Dan tentu yang harus disalahkan adalah systemd

    « kusaeni : ~ »» systemd-analyze blame 
        38.946s dhcpcd@eth0.service
        2.807s systemd-vconsole-setup.service
        2.612s systemd-fsck@dev-sda4.service
        1.892s systemd-journal-flush.service
        1.444s udisks2.service
        1.393s alsa-restore.service
        1.390s ifplugd@eth0.service
        1.378s tmp.mount
        1.345s systemd-logind.service
        1.325s dcron.service
        1.324s relight.service
        1.283s dev-hugepages.mount
        1.270s sys-kernel-debug.mount
        1.236s dev-mqueue.mount
        1.217s sys-kernel-config.mount
        1.203s systemd-rfkill@rfkill0.service
        1.192s systemd-remount-fs.service
        1.017s polkit.service
        987ms systemd-tmpfiles-setup-dev.service
        876ms systemd-udev-trigger.service
        842ms systemd-rfkill@rfkill2.service
        813ms systemd-rfkill@rfkill1.service
        666ms systemd-rfkill@rfkill3.service
        654ms dev-sda2.swap
        570ms kmod-static-nodes.service
        316ms systemd-tmpfiles-setup.service
        302ms home.mount
        301ms systemd-sysctl.service
        228ms user@1000.service
        195ms systemd-tmpfiles-clean.service
        192ms systemd-backlight@backlight:acpi_video0.service
        169ms systemd-random-seed.service
        140ms systemd-fsck@dev-sda1.service
        124ms systemd-update-utmp.service
        115ms systemd-user-sessions.service
        66ms systemd-udevd.service
        15ms boot.mount
        2ms sys-fs-fuse-connections.mount 
    

    Butuh 38.946 detik untuk memanggil dhcpcd@eth0.service, sepertinya ini karena sebelumnya pernah pakai koneksi LAN, tapi sekarang sudah tidak lagi pakai. Sedangkan yang lain masih dalam tahap wajar.

    Jadi?

    Terpaksa bunuh servis untuk dhcpd eth0.

     $ sudo systemctl disable dhcpcd@eth0.service
    

    Habis perkara :)