The Name of Rose

7 Deaths in 7 Days and Nights of Apocalyptic Terror
The Name of Rose
Penulis
Umberto Eco
Genre
Thriller,Mistery,Detective
Format
Papperback 592 halaman
ISBN
10-0446344109 tahun 1986
Rating
4 dari 5
Ringkasan

Tahun 1327. Seorang rahib Inggris William dari Baskerville dikirim ke sebuah biara tua di Italia untuk menyelidiki kasus bunuh diri seorang rahib muda. Sebuah kisah misteri yang sangat bagus, mengkombinasikan unsur religi, history, misteri, thriller. Namun referensi yang mendalam dalam sejarah abad pertengahan kadang membuat bosan.

Il Nome della Rosa adalah judul asli buku ini dalam bahasa Italia dan alasan terbesar saya membeli novel ini adalah karena Ustadz Salimafillah menyebut novel ini di salah satu post Instagram beliau, sebagai salah satu novel detektif favoritnya.

Cukup sulit untuk mendapatkan novel ini, apalagi versi dengan terjemahan bahasa Indonesia. Syukur Alhamdulillah akhirnya berhasil mendapatkannya di sebuah marketplace online. Di toko online tersebut ternyata punya 2 versi, yaitu terjemahan dan versi cetakan penerbit Amerika.

Saya pilih versi terbitan Amerika, karena ingin merasakan sensasi membaca novel dengan bahasa Inggris.

Hal yang kemudian sedikit kusesali, karena membuatku membutuhkan waktu lama (kira - kira 3 bulan) untuk menyelesaikan membaca novel ini.

Resensi

Tahun 1327. William of Baskerville dan muridnya rahib muda Adso of Melk melakukan perjalanan ke biara Benedictine di selatan Italia, karena ditugaskan untuk menyelidiki kematian Adelmo of Otranto (seorang pelukis gereja) yang mati terjatuh dari menara.

William of Baskerville ini mengambil nama tokoh dalam cerita The Hound of Baskerville karangan Sir Conan Doyle.

Biara Benedictine sendiri adalah Biara terpencil yang "netral" dari perebutan pengaruh antara Kaum Fransiskan dan Paus John XII. Selain memiliki bangunan yang megah, biara ini juga memiliki harta karun berupa naskah - naskah kuno dari Yunani, ilmu pengetahuan dari Arab, maupun dari belahan dunia lainnya serta lembaran - lembaran Injil yang paling awal. Selain itu di dalam biara ini memberlakukan aturan ketat keagamaan.

Di salah satu sisi bangunan biara (disebut dengan Aedificium), ada sekelompok rahib yang bertugas menyalin buku - buku dari naskah - naskah kuno Yunani dan Arab. Disinilah Tempat Kejadian Perkara tewasnya Adelmo.

Ternyata tidak hanya Adelmo yang menemui kematian, namun 6 rahib lainnya juga sama. Semua rahib yang tewas meninggalkan jejak yang sama, yaitu bibir dan ujung jari yang menghitam. Waktu kematian mengikuti alur dari 7 tiupan terompet sangkakala sebagai penanda hari kiamat.

Lalu siapakah pelaku semua kejahatan ini? well, sang pelaku dengan percaya diri menyebut ini bukanlah kejahatan melainkan penebusan dosa yang suci.

Catatan

Membaca buku ini sangat butuh kesabaran ekstra. Penulis memasukkan banyak sekali cerita historis di luar plot utama. Kadang kala malah membuat bingung karena cabang - cabang cerita ini mengalihkan perhatian kepada siapa sosok sang pelaku. Disisi lain, informasi mengenai kehidupan gereja di abad pertengahan dikemukakan secara gamblang di buku ini.

Salah satu yang menarik menjadi catatan adalah tentang jadual ibadah 4 para biarawan, bahwa faktanya jadual/jam ibadah mereka (jika dicermati) mirip dengan jadual ibadah umat Islam.

Saya tidak ingin berdebat tentang hal ini. Hanya membandingkan secara pribadi jadual ibadah para biarawan pada masa itu dengan (umat Nasrani) saat ini agak berbeda. Jadual ibadah menurut novel ini bisa dilihat di bagian Note - halaman xx - xxi.

Di akhir, saya sepakat dengan Ustadz Salimafillah bahwa novel ini adalah salah satu masterpiece dan sangat bagus untuk dikoleksi.

Berlangganan artikel

Suka dengan artikel seperti ini?, yuk berlangganan melalui RSS atau ketik emailmu di bawah ini untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung ke inboxmu.

Kamu bisa berhenti berlangganan dengan mudah kapan saja.

Powered by Buttondown.