
Setelah buku pertama (Strange House) yang membuat hati menjadi kosong dan pikiran bingung, maka ane lanjutkan untuk membaca buku kedua dari Uketsu yang berjudul Strange Pictures.
Uketsu memakai judul yang unik untuk buku karyanya, yaitu judul buku yang diawali dengan kata “Strange” yang berarti “aneh”. Dalam bahasa Jepang, Strange ditulis dengan Kanji “Hen na” (変な) yang berarti sesuatu yang aneh, ganjil, atau tidak umum dan mencurigakan. Judulnya sendiri aneh sama anehnya dengan penampilan Uketsu saat muncul di muka umum.
Di sebuah ruang kuliah, seorang Dosen Psikologi menampilkan gambar yang sepertinya dibuat oleh anak kecil.
Painting is a mirror of the soul
Sang Dosen menjelaskan bahwa sebuah gambar bisa memberikan banyak cerita, mungkin dalam sekilas gambar itu tidak bermakna apa - apa namun jika diperhatikan lebih dalam maka sebenarnya gambar ini menggambarkan isi hati dari pelukisnya, seorang anak - anak yang divonis bersalah telah membunuh ibunya sendiri.
Dosen yang juga seorang psikiater itu melihat gambar tersebut dan memberikan kesimpulan bahwa sang anak memiliki kesempatan yang besar untuk direhabilitasi dan bisa kembali ke masyarakat dengan baik.
Benarkah?
Berlangganan artikel lewat email
Masukkan alamat email anda untuk memulai berlangganan artikel.
Saya tidak akan mengirimkan spam dan tidak pula menjual alamat email anda. Jika sudah tidak ingin berlangganan, anda bisa berhenti berlangganan kapan saja dengan mudah.
Blog yang aneh #
Beberapa puluh tahun kemudian. Uketsu mendapatkan info dari Kurihara tentang sebuah blog yang aneh. Blog tersebut dimiliki oleh pria bernama Sasaki yang menulis tentang kesehariannya yang sudah menikah dan akan segera memiliki anak.
Sasaki menceritakan bahwa istrinya yang lebih tua beberapa tahun sedang mengandung anak pertama mereka, dia begitu bahagia dengan ini. Istrinya bekerja sebagai seorang ilustrator profesional yang sering membuatkan ilustrasi untuk blogpost yang ditulis Sasaki. Setidaknya ada 5 gambar yang dibuat oleh istri Sasaki akan tetapi memiliki keanehan karena setiap gambar diberi nomer khusus namun ukuran dan posisi nomer berbeda - beda. Beberapa bulan kemudian Sasaki membuat sebuah blog post yang berisi kalimat aneh I cannot forgive you. But even so, I will always love you*.
Kemudian Kurihara memberikan deduksinya bahwa untuk memahami arti dari gambar
- gambar istri Sasaki perlu mempergunakan view point dan layering yang sesuai karena istri Sasaki adalah seorang ilustrator. Setelah memproyeksikan muncul sebuah gambar utuh yang memperlihatkan sebuah adegan seorang wanita melahirkan.
Ruangan yang ternoda aneh #
Bagian ini menceritakan tentang Yuta Kono, seorang anak yatim yang hidup berdua dengan Mama-nya. Yuta masih berusia 6 tahun, bersekolah SD dan mereka berdua tinggal di sebuah apartemen sederhana. Suatu hari Mama datang untuk menjemput, dia menemukan Yuta sedang bermain puzzle board dengan gurunya Bu Haruoka yang kemudian mengajak Mama Yuta untuk berbicara berdua di ruang guru.
Bu Haruoka menanyakan tentang gambar yang dilukis oleh Yuta pada pelajaran melukis sebelumnya. Disitu Yuta menggambar bangunan apartemen yang pada bagian atasnya seperti ada gambar asap menghitam (atau bekas kebakaran) dengan gambar ibu dan anak di sebelah apartemen. Mama Yuta tidak paham kenapa Yuta menggambar bangunan apartemen seperti itu dan yakin bahwa bagian yang menghitam adalah tepat di ruangan kamar apartemen mereka.
Sepulangnya dari Sekolah, Mama Yuta merasa ada yang selalu membututinya selama ini dan kemudian bergegas untuk menarik Yuta untuk segera berlari pulang. Namun dia merasa kalo si penguntit sudah tau lokasi kamar apartemennya.
Suatu hari, tiba - tiba Yuta menghilang dari apartemen. Mama sudah mencari kemana - mana dan menghubungi pihak sekolah yang juga khawatir. Hampir seharian Yuta menghilang sampai kemudian dia ditemukan sedang berkeliaran di area pemakaman. “Saya mau mengunjungi ibu”.
Gambar terakhir Guru Seni #
Bagian ini menceritakan tentang Yoshiharu Miura seorang guru kesenian yang mengajar seni lukis. Dia adalah tipe guru yang keras sehingga kurang disukai oleh murid dan rekan guru lainnya. Selain menggambar, Miura memiliki hobi mendaki gunung dan secara rutin melakukan hobinya ini.
Pada September 1992, di gunung ditemukan mayat seorang laki - laki dengan wajah hancur sulit dikenali namun dari barang baawaannya dia diidentifikasi sebagai Miura. Tidak banyak bukti kejahatan yang ditemukan namun di kantongnya ada secarik kertas nota pembelian Bento dan dibaliknya ada sketsa gambar pemandangan gunung di dekat mayat ditemukan. Polisi tidak bisa menemukan pelakunya.
Seorang reporter bernama Isamu Kumai meliput peristiwa ini, namun harus berhenti karena masalah kesehatan. Oleh karena hal ini, majalah tempat dia bekerja memaksanya untuk berhenti melakukan liputan lapangan dan menugaskannya dibelakang meja.
3 tahun kemudian, datang pegawai baru bernama Shunsuke Iwata seorang anak muda baru lulus sekolah menengah dan memiliki pasion yang kuat sebagai reporter. Suatu hari dia menemui Kumai dan mulai bertanya tentang kasus kematian Miura. Kumai kemudian menceritakan semua hasil penyelidikannya dan memandu si reporter muda untuk mulai menyelidiki lagi kasus Miura dengan mengunjungi tempat terakhir Miura mengajar, apalagi kemudian muncul fakta bahwa Iwata sebenarnya adalah salah satu murid kesayangan Miura semasa hidup. Iwata ingin mencari kebenaran atas tewasnya Miura.
Iwata bertemu perempuan muda bernama Kameido yang ternyata adalah murid dari Miura yang juga dekat dengan keluarga Miura, mengatakan bahwa guru tidak sejahat itu (sehingga Iwata seolah memiliki teman). Dari Kameido, Iwata mendapatkan fakta bahwa Kameido mencurigai Toyokawa (merupakan teman dari guru Miura yang juga ikut berangkat pergi mendaki gunung satu hari sebelum kematian Guru Miura) sebagai pembunuh sebenarnya.
Dari Kameido, Iwata mendapatkan alamat rumah Miura dan alamat Toyokawa. Lalu untuk lebih memahami situasi dan kronologi saat hari H kejadian, maka Iwata berniat untuk mengrekonstruksi kejadian dengan cara mereka ulang kegiatan dari guru Miura mulai pagi sampai dengan mayatnya ditemukan. Namun yang terjadi beberapa hari kemudian di gunung yang sama ditemukan mayat dari Iwata dengan luka mirip dengan mayat Miura dan pesan kematian yang sama yaitu gambar sketsa pemandangan.
Apa arti dari pesan kematian ini? Kenapa menggambar sketsa pemandangan, kenapa tidak menulis saja nama dari pelaku pembunuhan? Apakah benar gambar pemandangan ini digambar oleh si korban?
Setelah itu Polisi juga menemukan Toyokawa mati bunuh diri dan meninggalkan pesan bahwa dialah yang membunuh Miura dan Iwata.
Burung hinggap aman di dahan #
Ini adalah babak akhir dari cerita Strange Pictures, di babak ini akhirnya sang burung menemukan kedamaian, keselamatan, dan keamanan dengan hinggap di dahan pohon yang rindang.
Lalu siapakah burung itu dan apa kaitan dengan 3 babak sebelumnya?
Uketsu sepertinya lihai dalam memainkan emosi dan psikologis pembacanya membuat cerita ini berakhir dengan sedikit aroma good ending meski menyisakan banyak tanya. Namun setidaknya berbeda dengan Strange Houses yang sangat hampa (di hati pembaca).

Buku kedua dari Uketsu ini menurut ane bagus dan pantas mendapatkan 4 bintang, ane bingung tapi lega dengan bagaimana Uketsu menarik garis benang dari beberapa cerita yang rumit ini.